Selasa, 01 Januari 2008

Bertanyalah tentang Kerajaanku. Bertanyalah tentang keadaan Kerajaanku. Dan aku lalu akan terunduk dan menggeleng tak berdaya.


Kepergianku, kepergian rekan-rekan seperjuanganku kupikir akan membuat segalanya lebih baik. Bukankah kami dicap sebagai perusak? Makhluk-makhluk bodoh yang mudah termakan retorika dan doktrin-doktrin -entah dari kiri maupun kanan-.


Tapi ternyata tidak. Tidak lebih baik.


Aku hanyalah makhluk bodoh –yang sok perkasa- dan hanya mampu marah, benci, mengumpat tanpa bisa berbuat apa-apa. Diam membisu.


Rekan-rekan seperjuanganku. Hanya sedikit dari mereka yang setidaknya memikirkan nasib Kerajaanku, Kerajaan kami. Yang lain? Tidak peduli. Padahal harusnya mereka tahu darimana mereka berasal. Huh!


Tak berani aku menengadahkan wajah pada malam yang dingin. Kepada wajah malam yang di depannya pernah aku berjanji akan membangkitkan dan menjayakan Kerajaanku lagi.


Nelangsa sekali aku. Ingin kembali tapi tak bisa. Waktuku telah habis. Memilih untuk menyampaikan sedikit ide pun begitu susah. Tak ada yang mau mendengar. Tak ada yang mau mengerti. Mereka memilih pasrah pada kenyataan. Bodoh!!!! Bodoh!!! BODOH!!!! BODOH!!!!


Kalian apakan Kerajaan kita? Kalian apakan Kerajaan kita? Kalian apakan Kerajaan kita? Ke mana semangat yang kalian janjikan? Ke mana kekuatan yang kalian ucapkan? Ke mana perkasa yang kalian punya?


Dan Kerajaanku pun ikut membisu, sepertiku, dan masih terus saja terpaku memikirkan celah bobrok yang kini menganga begitu besar.


Oh… dan beri tahu aku apa yang harus kulakukan! Beri tahu aku apa yang harus kuperbuat untuk Kerajaanku ketika yang lain memalingkan wajah! Haruskah aku ikut berpaling?

Tidak ada komentar: