Hamster. Ia lucu dan periang. Semua menyukainya, termasuk aku. Aku senang semua menyayanginxa. Tapi aku sedikit tidak suka, ketika ada 2 hewan lain yang menyukainya. Ah, hamster. Bukannya aku cemburu. Aku hanya tidak ingin kau menjalani sesuatu yang salah...
Cerita ini tentang hamster. Seekor hamster yang lucu. Aku tak tahu ia menganggapku apa, yang jelas, ia sahabatku.
Tentang hamster sahabatku. Dia pintar sekali. Dia lucu, tembem, dan bulunya krem lembut.
Hamster betina-ku yang lucu. Kami tumbuh bersama. Sejak kami masih hijau, sampai saat ini ketika kami sudah dewasa. Aku suka bersamanya. Aku suka bertukar pikiran dengannya, karena menurutku pemikiran kami sarna, bahkan untuk pemikiran yang dianggap aneh oleh orang lain, kami tetap sepemikiran.
Hamster betinaku. Aku tak tahu perasaannya padaku, yang jelas aku menyayanginya.
Hamsterku sangat perhatian padaku, sampai ia bertemu dengan cacing kerempeng. Aku tak tahu kenapa ia bisa sampai begitu menyukai si cacing kerempeng. Waktu ia menceritakan bahwa ia begitu menyukai si cacing kerempeng dan si cacing kerempeng itu ternyata juga menyukai hamsterku, aku hanya ber-oh-oh ria. Bukannya tidak peduli. Aku hanya khawatir, si cacing kerempeng akan merebut hamsterku.
Benar. Hamsterku kini selalu bermain dengan si cacing kerempeng. Kuaci bunga matahari simpanannya ia berikan pada cacing kerempeng. Hei, apa si cacing kerempeng menyukai kuaci? Tentu saja si cacing kerempeng tak bisa memakan kuaci-kuaci itu, tapi tampaknya si cacing kerempeng senang menerimanya, walau ia. hanya bisa menyimpan kuaci-kuaci itu. Apa lagi ya? Hm... obrolan kami sekarang nyaris selalu bertema ”cacing kerempeng”. Ini karena hamsterku selalu punya banyak cerita baru tentang si cacing kerempeng itu. Fiuh, terkadang aku eneg juga kalau harus membicarakan si cacing kerempeng. Untung hamsterku yang bercerita. Kalau bukan dia, aku sudah pergi dari dulu. Selain itu, kini hamsterku senang sekali menulis syair untuk ”yang tersayang si cacing kerempeng”.
Waktu terns berlalu. Hamsterku masih bersama si cacing kerempeng. Hei hamster! Waktu buatku mana? Ya sudahlah Tak apa-apa. Setidaknya kau masih mau berbagi cerita denganku. Bagiku itu sudah lebih dari cukup. Dan satu yang pasti, aku tetap menyayangimu.
Hamsterku dan si cacing kerempeng. Mereka masih bersama. Tapi aku kini mulai berteman dengan si cacing kerempeng juga. Ya... kalau dipukul rata, si cacing kerempeng oke juga. Bicaranya, maksudku. Ketika si cacing kerempeng berbicara, ia dapat menyihir setiap orang yang menjadi lawan biearanya, tak terkecuali aku. Retorikanya bagus sekali. Mendoktrin pun sudah menjadi keahliannya Kupikir, ia pasti selalu berhasil mempengaruhi lawan bicaranya. Karena itu, aku sekarang senang mengamati si cacing kerempeng berbicara. Aku mencoba mempelajari teknik-teknik retorikanya. Siapa tahu aku bisa secerdas si cacing kerempeng?.
Tentang aku
Aku belum pernah bercerita tentang diriku, ya? Aku adalah seekor elang betina yang perkasa. Narsis katamu? Bukan begitu. Bukankah perkataan itu do'a? Anggap saja aku sedang berdo'a agar aku betul-betul menjadi elang yang perkasa.
Di tengah komunitasku akan ada pemilihan Elang Pemimpin baru, dan aku adalah salah satu calonnya. Bukankah sebagai seekor calon Elang Perkasa aku harus pandai berbicara? Bukankah sebelum pemilihan ada penyampian visi dan misi? Ya khan? Makanya aku sekarang sedang rajin-rajinnya berlatih untuk tampil berbieara dengan berwibawa di depan elang-elang lain. Apa? Kau bilang untuk mendapatkan suara? Ya, memang. Tapi bukankah kenyataan yang ada memang seperti itu?
Oke. Cukup. Let's back to my hamster. Kupikir cerita tentang diriku sudah cukup. Karena ada kejadian baru dalam hidup hamsterku.
Please wait... loading...
It's over? Aku hanya mengulang perkataannya dengan ekspresi perpaduan antara tidak percaya dan sedikit bego, ketika hamsterku berkata, "Antara aku dan si cacing kerempeng, it's over!"
Ada apa sebetulnya? Kenapa bisa? Pertanyaan itu terns saja kulontarkan, tapi hamsterku hanya tersenyum. Hei, senyuman apa itu? Kenapa tak kulihat riak di matanya? Apa ia tidak sedih dengan perpisahan ini? Apa tidak menyayangi si cacing kerempeng lagi? Sekali lagi, hamsterku hanya tersenyum Oh hamsterku, kau begitu tegar. Tenanglah hamsterku, tenanglah sayang, ada aku, Aku akan membawamu terbang mengelilingi bukit kita. Ah, membawamu terbang. Hal yang jadi jarang sejak pertemuanmu dengan si cacing kerempeng, pikirku. Perpaduan antara ikut sedih dan sedikit lega, hamsterku kembali.
***
Ah, hari yang buruk. Aku terisak. Aku sedang terluka parah. Hatiku berdarah. Perih sekali. Ingat dengan yang pernah kuceritakan? Tentang pemilihan Elang Pemimpin itu...? Ya, pemilihan telah berlangsung. Aku kalah. Kalah te1ak. Pemilihan berlangsung alot, tanpa screening, tanpa penyampaian visi dan misi (padahal teksnya te1ah kupersiapkan) karena komunitas elang-elang sesepuh berusaha sekuat tenaga agar aku tidak terpilih. Aku juga tidak tahu kenapa mereka semua berbalik menentangku. Padahal merekalah yang melatihku, mengangkatku tinggi-tinggi, tapi kini malah menjatuhkanku. Maka jadilah, bukan aku yang menjadi Elang Pemimpin, tapi elang lain. Dan inilah sekarang. Aku merasa bahwa aku benar-benar hancur. Untung ada hamster di sampingku. Kalau bukan karena kata-katanya, aku pastilah hancur selamanya. Ia mengatakan, ”Eagle Queenku tetaplah dirimu, walau dunia tak mengakuinya." Ah, hamsterku sayang, kau selalu membuatku nyaman.
***
Hari ini kami pergi bersama ke bukit seberang. Di sana kami bersenang-senang, mempelajari hal-hal baru dan tentu saja bertemu dengan banyak ternan-ternan baru. Eits, tunggu! Bertemu-dengan-teman-baru. Ya, teman baru yang spesial. Seekor hamster jantan.
Hamster jantan. Kesan pertama: kalem, berwibawa, dewasa, dan sangat cerdas. Aku dan hamsterku kagum padanya.
***
Apa? Hanya itu yang dapat kukatakan ketika hamsterku menceritakan bahwa si hamster jantan telah mengatakan pada hamsterku bahwa ia menyukai hamsterku. Aku lalu bertanya tentang perasaan hamsterku pada hamster jantan. Hamsterku memang menggeleng, tapi je1as ada seuntai senyum dari bibimya. Fiuh, hamsterku...kenapa tak jujur saja?
***
Apa? Lagi-Iagi hanya kata "apa" saja yang dapat kuke1uarkan sebagai respon untuk cerita-cerita hamsterku. Hamsterku! Hamsterku telah mengatakan pada si hamster jantan, kalau ia juga menyukainya!
Begini, bukannya aku tidak senang. Hanya saja aku menjadi takut kalau-kalau hamsterku akan lebih terfokus pada hamster jantan, seperti yang teljadi ketika hamsterku berteman dengan si cacing kerempeng dulu.
Sebelum semuanya terlambat, aku lalu bertanya pada hamsterku. Aku katakan saja terus terang bahwa aku takut kalau dia akan lebih memperhatikan hamster jantan daripada aku. Hamsterku hanya tersenyum. Ia hanya bilang, "Itu konsekuensi kalau kau mempunyai sahabat yang sedang jatuh cinta." Setelah sempat terdiam, ia kembali berkata, "Kalau tentang itu... ya... pintar-pintarmu sajalah membuat sesuatu yang tak membosankan agar sahabatmu -yang sedang jatuh cinta- tetap memperhatikanmu." Aku menaikkan alis. Oh, begitu? Entah apa yang aku rasakan sekarang. Tapi, baiklah hamsterku sayang. I'll try...
***
Hamsterku dan hamster jantan. Mereka makin mesra saja. Sebenanya itu wajar. Toh, mereka sama-sama hamster. Bukankah bersama -dia- yang se-spesies dengan kita adalah lebih menyenangkan? Mungkin mereka memang jarang bertemu, tapi mereka sudah meminta pada angin untuk membisikkan kata-kata rindu mereka, atau pada bintang yang akan mengirimkan sinar-sinar mata mereka yang penuh cinta, juga pernah kulihat seekor bulbul yang menyampaikan nyanyian rindu si hamster jantan pada hamsterku sore kemarin.
Aku ada. Terus mengamati hamsterku dan menjaganya, walau dari jauh. Kupikir keberadaan hamster jantan sudah lebih dari cukup untuknya. Hamster jantan dapat membuat hamsterku merasa bemyawa. Ya, aku melihat jelas binar di mata hamsterku ketika sedang berbicara dengan hamster jantan. Yang jelas, kalau toh nanti hamsterku membutuhkanku, aku akan datang. Hamsterku cukup pergi ke kaki tebing Kerajaan Elang dan meneriakkan namaku. Dinding-dinding tebing akan memantulkan suara hamsterku, hingga aku akan dapat mendengarnya dan langsung terbang menuju hamsterku tersayang. Dan yang akan terus pasti adalah : aku tetap menyayangi hamsterku.
***
Seekor ayam jantan telah meminjam jarum emas milik Kerajaan Elang untuk merajut sayapnya. Dan sudah sebulan semenjak batas terakhir waktu peminjaman jarum emas itu.1) Lalu, elang sesepuh menyuruhku mencari si ayam jantan dan mengambil kembali jarum emas itu.
Alih-alih menemukan si ayam jantan, aku malah menemukan hamsterku di bawah pohon terbesar di bukit itu. Aku mendekati hamsterku. Hei, apa aku salah lihat? Aku makin mendekat. Dan aku tidak salah. Hamsterku benar-benar sedang terisak. Aku lalu mendekat. Aku ingin segera memeluk dan menenangkannya. Namun tiba-tiba, seekor elang menghampiriku. Elang sesepuh membutuhkanku saat itu juga. Maka dengan berat hati, aku terbang dan meninggalkan hamsterku yang masih terisak.
***
Hamsterku sayang. Ia menghindariku. Aku tak tahu kenapa ia menjadi seperti ini. Sebenarnya ia masih berbicara denganku, tapi dengan dingin. Aku sempat berpikir ia menjadi seperti im karena merasa aku telah mengabaikannya semenjak kejadian di bawah. pohon itu, tapi entahlah. Sebenarnya -sampai saat ini- aku belum mengetahui penyebab isakan hamsterku sore itu. Aku sangat penasaran. Rencananya aku akan menanyakan hal ini padanya. Siapa tahu ia membutuhkan seseorang untuk mendengarkannya. Tapi ya itu tadi, ia seperti menghindariku.
***
"Apa?" Huh, aku memang payah. Lagi-Iagi aku hanya bisa mengatakan "apa?" ketika ia menceritakannya padaku. Menceritakan bahwa ia dan si hamster jantan sedang menghadapi masalah. Ternyata ini arti diamnya selama ini. Aku cuma menghela napas dan tak melakukan apa-apa kecuali menatapnya dengan nanar.
***
Tentang Hamsterku. Aku masih tetap menyayanginya.
Tentang aku. Bodoh. Kukatakan aku ingin menjadi elang perkasa. Bullshit!! Perkasa apanya? Apa itu yang namanya perkasa jika tidak berani mengatakan kebenaran bahkan pada merekayang kita sayangi? Apa itu yang namanya "sayang" ketika membiarkan yang kita sayangi melanggar aturanNya?
Tentang hamsterku, cacing kerempeng, dan hamster jantan. Hubungan yang mereka jalani selama ini –seperti yang pernah kupelajari- sebenamya tidak halal. Walaupun mereka hanya seekor hamster betina, cacing kerempeng, dan hamster jantan, mereka tidak boleh berteman seperti itu tanpa ikatan pemikahan. Tidak boleh. Tapi...aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya. Aku yang pengecut, takut kalau hamsterku tidak bisa menerima keyakinanku ini. Aku takut kalau hamsterku akan benci dan marah, lalu meninggalkanku seorang diri.
***
Untuk hamsterku sayang. Aku sudah memikirkan dan merenungkannya cukup lama. Kuputuskan untuk pergi ke rumah pohon hamsterku sore nanti. Sambil memandangi mentari yang akan terbenam (rencananya...) akan kukatakan semuanya. Akan kukatakan tentang keyakinanku selama ini. Aku juga akan meyakinkannya, apapun resikonya. Kalau kuambil resiko terburuk, maka ia akan marah dan meninggalkanku. Tapi toh kalau ia memang akan meninggalkanku, aku ikhlas. Setidaknya aku telah membuktikan cintaku padanya dengan mengatakan sebuah kebenaran yang terlihat begitu pahit.
Hamsterku sayang. Sebelum mengatakannya sore nanti, aku hanya ingin dia tahu satu hal. Aku akan selalu menyayanginya, sampai kapanpun.
_Selesai_
Suatu ketika hamster betinaku pernah berkata, ”Jangan ajakku terbang, aku tak punya sayap. Jangan ajakku menyelam, aku tak tahu berenang. Jangan ajakku berlari, lariku tak secepat larimu. Tapi ajaklah aku berjalan, dan kita akan selalu bersama selamanya, sahabatku.” Aku tak pernah membalas kata-kata itu (karena pulsaku habis). Tapi balasannya akan kukirimkan lewat indahnya biru langit. ”Kalau terbang adalah satu-satunya pilihan terakhir, naiklah ke pundakku dan kubawa kau terbang kemanapun. Kalau menyelam adalah satu-satunya pilihan terakhir, peganglah siripku, kan kubagi separuh napasku untukmu. Kalau berlari adalah satu-satunya pilihan terakhir, genggam tanganku erat-erat, kan kuberikan separuh kekuatanku untukmu...”
1) Legenda yang bercerita mengapa ayam tidak bisa terbang tinggi. Konon demi punya sayap kuat seperti elang, seekor ayam jantan meminjam jarum emas pada elang. Tapi baru setengah terjahit, jarum emas itu hilang sampai hari ini. Itulah ayam selalu mengais-ngais tanah untuk mencari jarum emas yang hilang itu. Juga karena itulah, elang-elang selalu mengincar anak ayam sampai jarum emas mereka ditemukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar