Kamis, 05 Juni 2008




Sebuah cita-cita, alasan, dan
Workshop Elektroteknik
Lihatlah ke langit biru. Awan yang berarak menjadi berserakan saat sebuah pesawat melintas. Kemudian lihatlah ke depan, tukang becak sedang menahan sakit di urat kakinya yang hampir putus sambil ngobrol lewat HP di tangannya. Apa lagi? Kalau begitu naiklah angkot yang punya TV di depan pak kusir, eh, karena ternyata delman pun punya televisi. Di mana tak ditemukan teknologi? Tidak ada tempat sepertinya. Karena nyaris segala hal di dunia tengah dimabuk teknologi, dari teknologi sederhana pembuatan susu kedelai sampai pengembangan bom nuklir untuk Amerika dan Israel tercinta. Perkembangannya pun sudah sedemikian pesat. Ratusan ilmuwan dan peneliti berlomba-lomba menemukan teknologi-teknologi baru. Entah dengan alasan apa, yang jelas teknologi saat ini sudah berhasil memanjakan manusia. Sayangnya, perkembangan teknologi sepertinya dimonopoli oleh negara-negara maju seperti Amerika –tentu saja-, Jerman, dan Jepang. Teknologi-teknologi canggih berkiblat di sana. Artinya, baik secara keilmuan maupun berbicara tentang keuntungan finansial, mereka tentu saja lebih maju dan lebih unggul. Lalu bagaimana dengan negara-negara dunia ketiga alias negara berkembang? Jawabannya jelas. Hanya negara konsumtif. Patut disayangkan dan disesalkan, ternyata kenyataan bahwa Allah Swt. menciptakan manusia dengan potensi dasar yang sama tidak disadari atau kalaupun disadari, namun kurang diresapi dan ditindaki dengan aksi oleh banyak manusia, terkhusus penduduk di negara-negara berkembang tersebut. Benar bahwa sistem pemerintahan dan lingkungan yang ada lantas tidak cukup memberikan ruang-ruang kreativitas bagi otak-otak penduduk dunia ketiga menjadi alasan jelas. Namun akan bertahankah kita dengan sikap seperti itu? Inginkah kita ikut terpuruk ketika tempat kita berpijak seakan runtuh? “Langkah-langkah besar dimulai dari satu langkah kecil” Benar. Saatnya bertindak! “Jika Anda dan teman Anda memiliki sebuah apel lalu saling menukarkannya, maka Anda akan mendapat 1 buah apel dan begitupun teman Anda. Tapi bila Anda dan teman Anda masing-masing punya pemikiran lalu saling memberitahukan, maka kini Anda dan teman Anda punya dua referensi pemikiran.” Bersosialisasi, karena manusia tak sanggup hidup sendiri. Anak teknik pun butuh petani untuk makan nasi. Begitulah hidup. Pun ketika seorang mahasiswa idealis yang menyadari keterpurukan negaranya sebagai negara konsumtif tidak bisa memperjuangkan idenya seorang diri. Kita butuh berjamaah. Butuh sebuah komunitas untuk dapat memperjuangkan sesuatu yang menjadi tujuan perjuangan. Dengan berkomunitas, tidak akan ada perasaan seorang diri. Ketika semangat sedang layu, akan ada yang akan membantu membakar kembali semangat kita. Dan ketika berada dalam keterpurukan, akan ada tangan-tangan yang siap menarik tubuh kita. *** Artinya jelas. Seorang mahasiswa Elektroteknik Universitas Hasanuddin harus memiliki kesadaran yang tinggi untuk segera berpartisipasi dalam perkembangan teknologi dunia, tidak sekedar penikmat teknologi buta belaka. Kemudian, untuk mencapai hal itu, seorang mahasiswa Elektroteknik Universitas Hasanuddin membutuhkan sebuah komunitas yang bergerak dalam bidang teknologi sebagai sarana yang akan membuatnya berkumpul dengan mahasiswa-mahasiswa lain dengan tujuan yang sama. Mungkin hasil yang didapatkan tidak signifikan dengan perkembangan teknologi yang sebenarnya. Namun paling tidak, telah ada aksi yang coba untuk dilakukan. Ini lebih baik daripada sekedar berpikir tanpa melakukan apa-apa…
***
Mencoba sedikit lebih personal… Katakanlah “We-eS”. Apa yang spontan terbayang? WS = W. R. Supratman? WS = W. S. Rendra? Atau Widyastuti, maaf, kalau yang terakhir nama temanku. Sekali lagi, katakanlah “We-eS” di depanku! Maka akan terbayang sebuah tempat di sudut lantai empat jurusan elektro fakultas teknik universitas hasanuddin. Berada di sudut tidak membuatnya tersudut. Berada di puncak lantas tidak membuatnya meng-eksklusifkan diri (paling tidak itu yang saya tangkap). Pun sederetan prestasi yang membuatnya dapat semakin mengukuhkan tempatnya di puncak lantai empat sebagai panutan. Inginku pun hadir tiba-tiba. Terbesit sebuah ambisi untuk ikut berada dipuncak lantai empat. Apa alasan ingin masuk di Workshop? Future light. Cita-cita. Sedikit bercerita tentang seorang perempuan mungil yang sedang mencari identitas diri. Di tengah-tengah pencariannya, perempuan mungil tadi menemukan… menemukan kotak teh kotak yang kosong, kulit pisang yang sudah hampir busuk, bungkus beng-beng, toples jagung aussie yang kosong dan… seperangkat komputer yang berdebu. Wah, kamarnya kotor sekali! Maaf, tidak sedang bermaksud untuk bercanda! Karena komputer itu benar-benar ada. Kemudian disentuhnya monitor yang debunya sudah 2 cm itu. Hati perempuan mungil tiba-tiba berdesir. Ada keharuan dan kerinduan yang menyeruak begitu saja. Ternyata, sudah sepekan komputer itu tak pernah disentuhnya. Saat itu, perempuan mungil hanya ingin, hanya mau “bermain komputer”. Begitulah sensasi-sensasi yang dirasakan perempuan mungil kepada komputernya. Menyenangkan, bebas, lepas, dan membuat hidup lebih hidup. Baginya, komputer tak sekedar rangkaian baut dan elemen-elemen ribet yang bisa menjalankan program-program keren, mendengar musik, dan bermain game, tapi juga sebagai sahabat sejati. Bersama komputer si perempuan mungil bisa melakukan banyak hal yang semaunya, sebebasnya tanpa khawatir salah, malu, gengsi, responsi, asistensi, laporan ok, setelah itu praktikan bisa pres di depan asistennya. Ups. Maaf, sekali lagi bukan maksud saya bercanda. Hanya saja memori tentang hal-hal yang berhubungan dengan elektro dan ilmunya selalu saja membayang... ^^ Begitulah sampai akhirnya perempuan mungil menganggap komputer adalah belahan jiwanya, dan tempat-tempat yang berhubungan dengan komputer seakan selalu memanggil jiwanya… Jurusan Elektro Fakultas Teknik Nan Jaya kemudian memanggilnya. Perempuan mungil mengaku seperti itu. Ia merasa benar-benar telah terpanggil. Entah benar, entah tidak. Pastinya, hal itu kemudian membuatnya memilih Jurusan Elektro Fakultas Teknik Nan Jaya, dan akhirnya ia benar-benar menjadi mahasiswa di Jurusan Elektro Fakultas Teknik Nan Jaya dan terdeteksi bukan sebagai unknown virus atau perempuan mungil (karena ternyata dia tidak mungil), tapi sebagai mirna andriani, dengan NIM D41107033. *** Sekali lagi. Sebuah panggilan mengusik jiwanya. Menengadah dari lantai tiga pun kemudian dilakukannya, karena suara itu datang dari lantai empat… Sekali lagi : workshop. Kemudian ketika timbul pertanyaan, “Apa yang membuatmu ingin bergabung di Workshop?”, apakah jawaban “panggilan jiwa” tak cukup menjadi alasan? Jika iya, baiklah, akan kupaparkan…
***
Sekedar cita-cita, harapan, bahkan minat ternyata tidak cukup. Butuh “belajar” dan ternyata belajar itu adalah sebuah proses. Alhamdulillahnya, kupikir panggilan hati kali ini tidak mengarah pada sesuatu yang salah... Workshop Elektroteknik adalah sebuah komunitas yang berkecimpung di bidang komputer dan multimedia. Maaf jika salah membahasakannya (mungkin isitilah “komputer dan multimedia” tidak terdengar cerdas, namun dari sudut pandang manusia awam, seperti itulah kira-kira). Sebagai mahasiswa elektro, menguasai –atau paling tidak “berusaha” menguasai- teknologi ada sebuah kemutlakan yang nyata. Bagaimana mungkin seorang mahasiswa elektro teknik buta teknologi? Apalagi Elektro Fakultas Teknik Nan Jaya!? It’s difficult to believe! Karena itu, dengan bergabung dengan Workshop, Insya Allah keinginan itu bisa terpenuhi. Kalaupun tidak, -sekali lagi- ada proses menuju ke sana… Kemudian pertanyaannya, “Kenapa ada proses menuju ke sana?” Karena Workshop berhasil membangun citra baik bahwa Workshop berisi insan-insan berkualitas dan berkompeten dalam dunia teknologi komputer dan multimedia. Bukankah bergaul dengan sales parfum Channel akan membuat kita wangi Channel juga? Artinya, bergaul dengan anggota-anggota Workshop yang lain, paling tidak ilmunya akan menular… di samping itu pengalaman membuktikan Workshop tidak pernah menghadirkan suasana-suasana angker dan menyeramkan apalagi berbau-bau mistik. Ditunjang dengan kesejukan sudut lantai empat, sekret Workshop sepertinya merupakan tempat yang perfect untuk mencari inspirasi… Alasan selanjutnya mungkin terdengar standar. Tapi siapa yang menolak pentingnya “pengalaman”? Dari satu sudut pandang, segala kelebihan Workshop yang tercitrakan di seantero Fakultas Teknik Nan Jaya tentu saja akan menambah pengalaman dalam bidang keilmuan termasuk aplikasi dan kiat-kiat sukses dalam hidup. Namun bisa juga dipandang dari sisi lain, ketika nantinya sisi gelap Workshop yang tak terdeteksi sebelumnya menampakkan diri tiba-tiba. Akankah semangat lalu mundur? Akankah anggota-anggotanya kemudian lari dan berpaling? Ketika sesuatu berjalan tak sesuai rencana atau harapan? Tentu saja tidak. Workshop hidup karena anggota-anggotanya. Workshop bisa jaya karena anggota-anggotanya. Jadi, ketika Workshop ternyata tidak memberikan apa yang diharapkan anggotanya, jangan pernah salahkan Workshop-nya. Jangan pernah tinggalkan Workshop-nya. Dan loyalitas anggota mulai dipertanyakan di sini. “Jangan tanyakan apa yang Workshop berikan padamu, tapi tanyakan apa yang bisa yang kau berikan pada Workshop...” Ini berarti, anggota-anggotanyalah yang wajib berkarya. Anggota-anggotanya yang wajib membangun Workshop menjadi benar-benar memenuhi keinginan anggota-anggotanya. Siapa yang menanam akan menuai hasilnya, bukan?
***
“Alasanlah yang membuatmu tetap mempertahankan hidup. Dan alasan itu adalah tujuan...” Berbicara lebih lanjut tentang citra. Bersyukurlah Workshop yang memiliki kru-kru dengan citra yang baik. Ini merupakan aset yang sangat berharga sekaligus menjadi daya tarik yang sangat sempurna. Ada energi-energi positif yang kemudian mengalir kepada siapa saja yang pernah berada di area Workshop. Energi-energi positif ini kemudian memberi ruang bagi pikiran-pikiran positif untuk menghadirkan diri. Artinya, dengan berbagai tujuan dan niat suci serta alasan untuk masuk Workshop tadi, dengan izin Tuhan Yang Mahakuasa semuanya sangat mungkin untuk diperoleh di Workshop.
***
Pada akhirnya, sebagai seorang mahasiswa Jurusan Elektro Fakultas Teknik Nan Jaya yang sedang mencoba dan berusaha bergabung dalam Workshop Mirna Andriani tidak bisa menjanjikan apa-apa. Tidak ilmu yang bisa disombongkan dan tidak pula loyalitas yang dapat kupersembahkan. Karena yang dapat kusodorkan hari ini adalah sebuah tekad dan cita-cita akan ilmu yang akan kudapatkan dan loyalitas yang akan kuperjuangkan untuk diriku, untuk keluargaku, untuk Workshop, untuk Elektro, untuk Teknik, untuk Unhas, untuk bangsaku, dan untuk Islamku. Wallahu’alam bishawab. Muhasabah, 29 April 2008

4 komentar:

Zhen_elektro mengatakan...

ngapamoe anak barunya ws....

adhe tembok mengatakan...

bravooo...WS...salut ma nih anak...
hiks..hiks...jadi terharu bacanya...

taZyndRomE mengatakan...

segelintir realita yg terjadi di WS
:D

hmm...
jadi kangen WS

just for human beings mengatakan...

oke se tunggu ki di ws de'!!
tuk adik agle_queen:

silahkan mengharu biru di WS...
warnai WS-mu dengan warna kesukaanmu!!!

semanga'!!!!!