Setengah isi setengah kosong...
(meminjam judul buku Ayahanda Parlindungan Marpaung)
Di gedung IPTEKS, kak Alim Nawara bilang...
"Jadi ada proses pengosongan total kepada para terkader.
Bila kondisi kosong telah tercapai, doktrin-doktrin pun akan
mudah dilakukan... seperti mengisi botol kosong... atau
menulisi kertas yang masih putih bersih..."
jangan berpikir aku akan menyalahkan di anu atau siapa begitu
hanya saja hati dan jiwaku tersentak
inikah jawaban pertanyaanku selama ini?
Konsep pengaderan yang pernah kukenali teorinya:
Militerisme dan non-militerisme (apa sih istilah sebenarnya?)
Kalau kau bilang ada semi-semian (semi moliterisme, etc),
nah, ini dia yang ingin aku bahas...
yang kulihat pada banyak proses pengaderan, banyak yang setuju
efek jitu nan mematikan dari jenis militerisme tapi belakangan
menginginkan levelnya dikurangi. Maka jadilah semi militerisme.
Ini yang pernah kualami. Ternyata –menurutku- proses pengosongan
yang coba dilakukan –maaf- kurang berhasil atau kubahasakan dengan
jujur : gagal.
Selama proses pengaderan seperti itu benar-benar tidak ada
proses pengosongan (kalau saya...). sempat sih merasa merinding,
bulu kuduk berdiri, aliran darah jadi lebih cepat, tapi hanya sesaat
seperti buih dari soda yang baru saja dituang...
seperti korek api yang nyalanya sesaat lalu mati (ngomongin
korek api lagi deh, btw, tau ceritaku tentang si korek api tidak?
kapan2 mampir deh ke blog quw...yak...yak...!)
jadi, mengapa sebagian dari kita sulit diatur? Ya karena mereka
memang tak terkader secara total.... ilmu-ilmu yang harusnya
terserap sempurna malah tidak tercapai...
dan bahayanya, pengisian pada kondisi setengah kosong akan
berakibat fatal. Junior bisa jadi bumerang buat seniornya dan
senior pun makan hati... junior?tak usah ditanya lagi lah...
bukankah mencharge baterai saat belum lowbatt akan membuat
baterai cepat rusak? Seperti itulah analoginya kira-kira....
(jeleknya analoginya deh, hehe)
HARUSKAH MILITERISME?
Nah, tulisan ini bukan juga menyatakan kalo diriku yg mungil ini
HANYA mendukung pengaderan yang "keras", karena ternyata
ada juga jenis pengaderan lain yang bertolak belakang dengan
militerisme...
kalo di militerisme ada pemaksaan, maka yang satu ini (apa sh istilahnya?)
tidak ada unsur kekerasan. Kalo contoh, maka kuambil saja
teladan Baginda Muhammad SAW (upz, kagak bermaksud SARA yei...)
betapa beliau berhasil mengader sahabat-sahabarnya lahir batin.
Hasilnya tak sekedar menerima dengan ikhlas, mengembangkan dan
menyebarkan, istiqomah dengan ajaran Muhammad, mereka bahkan
rela mati syahid. Hayo, kalau kita disuruh ikut perang betulan, langusngkah
kita berani mengacungkan tangan? Atau sempat ada keraguan dan ketakutan?
Dan ajaibnya, sikap heroik itu lahir tanpa kekerasan, karena Rasulullah
adalah pribadi yang sangat lembut. Tak pernah keluar dari bibirnya yang suci
kata-kata "CILAKA", "BUNTU", apalagi adegan "TAPPE’ kiri TAPPE’ kanan"
tapi toh, Rasulullah benar-benar berhasil menjadi seorang pengader gemilang.
Masih banyak kisah-kisah lain yang membuktikan bahwa proses pengaderan tanpa
kekerasan juga bisa berhasil.
***
Lalu apa?
TOTAL. Kalau mau keras dan tegas, ya KERAS dan TEGAS, tapi jangan
kelewatan kasar dan tidak terkontrol. Demi Tuhan, keras dan kasar adalah
dua hal yang bisa dibedakan dan dipisahkan... kalau ada yang ngotot
kalau tak dapat dipisahkan, itu...namanya napsu! Ego juga! Arogansi sekalian!
Kalau mau yang TANPA KEKERASAN juga lebih bagus. Kan tadi sudah ada contohnya?
Yang penting total. Jangan setengah-setengah. Jangan ada semi-semian.
Gimana?
Selamat mengader.
Selamat terkader.
Luph PIXEL zeroseven
Jayalah Elektro
Bravo TEKNIK!
ruangsempit,btp,190708
Rabu, 13 Agustus 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
2 komentar:
wiuw, Q LLLLLoooVVVeeee this one, sungguh, sebuah tulisan yang menunjukkn seperti apa yang hendak dari kebanyakan kami mahasiswa teknik UNHAS ingin menyuarakannya...
^_^
weks proses pengkaderan yang dicontohkan oleh BAGINDA RASULULLAH SAW adalah memang suatu contoh yang sangat patut dicontoh, tapi untuk sebuah pengandaian menurut saya adalah hal yang salah ...
kenapa salah menurut saya, ada banyak alasan untuk itu, mungkin pertama baginda RASULULLAH SAW seorang pemimpin yang kharismatik bahkan dari pihak musuh pun segan terhadap beliau jadi suatu hal yang wajar jika proses pengkaderan beliau terhadapa para sahabat sangat bagus, bandingkan dengan sekarang, beberapa senior cenderung untuk memperlihatkan sebuah kebaikan tapi yang diperoleh setelah lama kelamaan bukannya sebuah sopan santun, tapi malahan sebuah "penghinaan" orang makassar bilang PATOATOAI, bayangkan saja kalo untuk berpapasan saja dengan junior kita mesti menyingkir dan kalaupun tidak menyingkir tunggu saja ditabrak dan setelah itu tak usahmi harap akan ada permintaan MAAF
kedua, kondisi adat dan budaya yang berlaku dijaman RASULULLAH dengan kondisi sekarang, bisa diliat bahwa yang namanya sikap saling menghormati pada jaman RASULULLAH sangat-sangat dan sangat tinggi, sekarang weks disenggol sedikit sudah deh yakin dan percaya bakalan dapat yang namanya kata-kata kotor semisal T********, S******** dsb-nya, bahkan contoh kecil kita minta tolong saja itupun yang dimintai tolong waduh sudah pada ngomel .... ampun DJ,
ketiga, kondisi pendengaran para sahabat pada jaman RASULULLAH weks sangat peka sekali, untuk setiap inci kalimat dan setiap jengkal susunan kalimat yakin dan percaya para sahabat akan ingat betul dan jika didalamnya berisi seruan para sahabat pastinya akan sangat mengikuti, sekarang weks ..... contoh kecil saja di lantai 3 dan 4 sudah nyata banyak sekali terpasang seruan yang intinya untuk memperbaiki tata cara berpakaian tapi hasilnya weks semakin banyak yang tidak tahu diri, justru memakai pakaian yang lebih cocok untuk dipake oleh adeknya, so intinya pengkaderan dengan adanya tingkat kekerasan saya pandang sangat perlu, sebagian rekan masih ingin melihat bahwa FAKULTAS tercinta ini tidak jadi persis dengan kampus tetangga kita mis ST**K (weks sekali-kali jalan-jalanki dibelakang perpustakaannya >> bakalan banyak kita dapat KONDOM bertebaran)
alasan keempat, kondisi sekarang yang tingkat kesulitan untuk menerima sesuatu yang sangat tinggi, saya amati sudah hampir 3 tahun yang namanya pengkaderan yang mengandalkan sekedar kata-kata banyak menimbulkan intrik, banyak contoh telah terjadi "ANA 06 Geo main keroyokan ama kakaknya 01 Mes tanpa sebab yang jelas" "demikian pula dengan anak 04 Geo yang mengatai kakaknya 99 dengan kata kotor hanya karena suatu panggilan minta tolong".
alasan kelima, MAAF yach satu kata itu yang buat segalanya berbeda, jaman RASUL maaf adalah betul-betul MAAF, sekarang "SHIT" sudah minta maaf yakin dan percaya besoknya atau hari lainnya bakalan ada MAAF selanjutnya.
saya rasa itu terlalu banyakmi, dan masih banyak lagi jika kita mau bandingkan dengan pengkaderan RASUL
dan saya rasa betul adanya untuk sebuah pengisian perlu ada yang namanya pengosongan ....
ada statement ta yang bikin ketawaka, pengosongan yang gagal (menurutta) saya tahu kita anak 07 elektro, dan menurut yang saya liat dalam proses pengkaderan yang kita maksud "TIDAK ADA SAMA SEKALI yang NAMANYA PENGOSONGAN dalam PENGKADERANta" jadi menurutku masih ada Kalimat yang belum ada aplikasinya yang kita ucapkan diatas .... kalo kita nilai BAE ta kemarin ada pengosongannya wah NOL besar, itu bukan pengosongan cuman shock teraphy yang dipaksakan ...
satu lagi alasanku yang banyak keanehan sekarang ini :
sekarang orang cuman kebanyakan ngomong, semua berani dan jago dalam tataran konsep dan pemikiran tapi tidak ada sama sekali yang berani tindakan yang nyata ...
ada yang bilang pemikiran bisa mendobrak dunia ke tatanan yang baru .... weks setuju banget tapi tidak setuju dan NOL besar kalo tidak tindakan nyata .... :P
best regards,
ME
aztzensation.blogspot.com
Posting Komentar