Sahabatku, saudariku…
Izinkanku mengadukan kata hatiku…
Ketika mentari kita telah terbit, kupikir syahdunya subuh yang sempat terlewat tetap membekas hingga saat ini. Buramnya subuh, pun segala jenis keraguan kulalui bersamamu. Ada selipan senyum tentu saja, walau tak jarang caci maki keluar begitu saja. Kau, aku, dengan gigi gemelutuk dan kita saling menghangatkan. Toh, pagi segera tiba…
Sahabatku, saudariku …
Berbeda. Dan izinkan aku mengharap maafmu… karena mentari yang tengah mengintip membuatku tak sadar berpaling dan segera berlari. Kupikir, sahabatku, kau segera ikut berlari denganku. Tapi ternyata tidak… kau tak ikut bersamaku…
Sahabatku, saudariku…
Mengapa senyummu kini begitu mahal? Begitu bersalahnyakah diriku?
Sahabatku, saudariku…
Teringatku pada hari-hari di kampus… tawamu candamu… aku tahu kata-kataku ngedangdut, tapi sungguh aku kehilangan saat-saat itu…
Aku kini tengah mengejar sesuatu yang berbeda denganmu. Aku tahu. Dan itu yang mebuatmu berpaling dariku… tak tahukah betapa tersiksanya diriku?
Sahabatku, saudariku…
Dan aku telah memilih untuk kembali ke sisimu. Sudahlah, jangan kau tanya obsesiku pada kemilau-kemilau fatamorgana itu. Aku tahu kalau berusaha, puncak itu akan kuraih dengan cepat, tapi tanpamu, dan bukan itu yang kumau.
Maka saat ini, ketika kuingin kembali tanpa balutan obsesi, nafsu, dan egoiseme tak mutu yang makin hari makin berkembang dalam diriku...adakah kau masih mengulurkan tanganmu?
[dan kau bertanya, bagaimana dengan orang2 yang kau tinggalkan?, maka kujawab, takkan kutinggalkan mereka sepenuhnya, lagipula kehilanganku mungkin berdampak baik, maka akan kukatakan pada mereka, ‘sempurnakan keaktifanmu dengan kevakumanku’, begitulah sahabatku...]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar